AL-HAITSAM, Terobosan dalam Metode Ilmiah
Posted by G. | Filed under Tokoh Dunia
Siapa sangka tokoh yang membuat terobosan besar dalam metode ilmiah ini pernah berpura-pura gila!
Abu Ali Al-Hasan ibn Al-Haitsam, tulisannya selalu mengandung pengamatan sistematis dalam membentuk teori ilmiah, tidak berdasarkan tebak-tebakan, dan menempatkan penyelidikan ilmiah pada fondasi kukuh yang terdiri dari hubungan sistematis antara pengamatan, hipotesis, dan verifikasi. Tetapi, ketika dia berhadapan dengan seorang khalifah yang berbahaya, Haitsam memilih menghindarinya dengan berpura-pura gila.
Al-Haitsam terkadang disebut Al-Basri, karena berasal dari Kota Basra di Irak, dan terkadang disebut Al-Misri, karena dia datang dari Mesir. Sering juga dia dikenal dengan sebutan Alhazen yang merupakan versi Latin nama kecilnya “Al-Hasan”.
Sebuah autobiografi yang ditulis al- Haitsam pada tahun 1027 bisa diselamatkan, tetapi di dalamnya tak banyak disebutkan tentang kehidupannya dan hanya berfokus pada perkembangan intelektualnya.
Dalam autobiografi itu, dia menjelaskan, ketika masih muda, dia mempelajari banyak pergerakan keagamaan dan pandangan mereka yang saling bertentangan, tetapi kemudian menyimpulkan bahwa tak ada satu pun yang benar. Kecewa dengan studinya tentang agama, Al-Haitsam memutuskan untuk mendalami sains, karena menurutnya, sains paling jelas digambarkan dalam tulisan-tulisan Aristoteles. Sejak saat itu, Al-Haitsam membaktikan seluruh tenaga sepanjang hidupnya untuk matematika, fisika, dan ilmu-ilmu alam lainnya.
Ibn Al-Haitsam pergi ke Mesir setelah mendapatkan reputasi sebagai ilmuwan terkenal di Basra. Ketika itu, Mesir diperintah oleh Khalifah Al-Hakim. Al-Hakim adalah khalifah kedua dinastinya; yang naik takhta sejak usia sebelas tahun.
Al-Hakim, yang kejam terhadap musuh-musuhnya, ternyata sangat mendukung perkembangan sains dan mempekerjakan ilmuwan-ilmuwan terkemuka seperti Ibn Yunus. Dukungannya terhadap sains mungkin ditimbulkan oleh minatnya pada astrologi. Al-Hakim sangan eksentrik, misalnya dia memerintahkan penjarahan Kota Al-Fustat, memerintahkan semua anjing dibunuh karena gonggongan mereka mengganggunya, dan mengilegalkan sayur-sayuran tertentu, juga kerang dan udang.
Meskipun begitu, Al-Hakim memiliki peralatan astronomi di rumahnya yang menghadap hamparan Kota Kairo dan membangun perpustakaan terbesar kedua setelah Baitul Hikmah yang dibangun 150 tahun sebelumnya. Interaksi dengan Al-Hakim inilah yang membuat Al-Haitsam terpaksa menjadi “gila”.
Tulisan Al-Qifti menceritakan bahwa Al-Hakim mempelajari proposal Al-Haitsam untuk mengatur aliran Sungai Nil. Dia lalu menunjuk Al-Haitsam sebagai pemimpin proyek mewujudkan proposal itu. Tetapi, ketika Al-Haitsam dan timnya meninjau sungai semakin ke hulu, dia menyadari bahwa gagasannya untuk mengatur aliran sungai dengan suatu konstruksi besar tidak akan berhasil.
Al-Haitsam kembali dan melapor kepada Al-Hakim. Al-Hakin yang kecewa lalu mengalihkannya pada tugas-tugas administratif. Pada awalnya, Al-Haitsam menerimanya, tetapi segera menyadari bahwa Al-Hakim adalah orang yang berbahaya dan tidak bisa dipercaya. Al-Haitsam kemudian berpura-pura gila dan akibatnya dia dikurung di rumahnya sampai kematian Al-Hakim pada tahun 1021. Selama itu, Haitsam melakukan penelitian ilmiah dan setelah Al-Hakim mangkat, dia bisa menunjukkan bahwa kegilaan itu hanya pura-pura.
Menurut Al-Qifti, Al-Haitsam menjalani sisa hidupnya di dekat Masjid Azhar di Kairo untuk menulis naskah-naskah matematika, mengajar, dan mencari nafkah dengan menduplikat naskah.
Al-Haitsam menulis lebih dari 200 buku, tetapi hanya sedikit yang bisa diselamatkan. Topik utama yang ditulisnya adalah optik, termasuk teori cahaya dan teori penglihatan, astronomi, dan matematika, termasuk geometri dan teori bilangan. Bukunya yang terkenal adalah Kitab Al-Manazir atau Opticae Thesaurus yang menjelaskan berbagai fenomena fisika seperti pelangi, bayangan, dan gerhana. Buku ini memberikan pengaruh besar pada ilmuwan Barat, seperti Roger Bacon dan Kepler.
Kitab Al-Manazir, yang terdiri dari tujuh jilid, dianggap sebagai sumbangan terpenting Al-Haitsam. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul Opticae Thesaurus Alhazeni pada tahun 1270.
Pada Jilid I, Al-Haitsam menjelaskan bahwa penyelidikannya terhadap cahaya didasarkan pada bukti-bukti eksperimental, dan bukan teori abstrak. Dia menyatakan bahwa cahaya itu sama, tak peduli apa pun sumbernya, dan dia memberikan contoh bahwa cahaya matahari, cahaya dari api, atau cahaya yang dipantulkan dari cermin mempunyai sifat yang sama. Dialah orang pertama yang memberikan penjelasan tepat tentang penglihatan, dengan menunjukkan bahwa cahaya dipantulkan dari benda ke dalam mata.
Jilid I umumnya berisi struktur mata, tetapi di sini penjelasannya tidak benar karena dia tidak mengetahui konsep lensa yang penting untuk memahami fungsi mata. Tetapi, penelitiannya menghantarkannya pada penggunaan camera obscura, kamar gelap tempat citra nyata benda diterima melalui lubang kecil atau lensa dan difokuskan dalam warna alaminya pada sebuah permukaan, alih-alih direkam pada film atau pelat. Dia menjadi orang pertama yang menggunakannya.
Dia juga memberikan penjelasan yang tepat mengenai pertambahan ukuran matahari dan bulan ketika berada di dekan cakrawala. Dia menggugurkan teori penglihatan Ptolemeus dan Euclid bahwa benda-benda dapat terlihat karena adanya cahaya dari mata; menurut Haitsam, cahaya berasal dari benda bukan dari mata. Melalui riset mendalam dalam dunia optik ini, dia dianggap sebagai Bapak Optik Modern.
Jilid II, Optics, membahas presepsi visual, sementara Jilid III mengkaji kondisi-kondisi yang disyaratkan untuk penglihatan yang baik, dan bagaimana kesalahan dalam penglihatan terjadi. Dari sudut pandang matematika, Jilid IV adalah buku yang paling penting karena membahas teori refleksi.
Dalam bukunya yang lain, Mizan Al-Hikmah, Al-Haitsam membahas kekerapan atmosfer dan mengembangkan hubungan antara kekerapan dan ketinggian amosfer. Dia juga mempelajari refraksi atmosfer. Penelitiannya ini membawanya pada kesimpulan bahwa atmosfer mempunyai ketinggian pasti sekitar 15 km. Dia menjelaskan lembayung pagi dan senja merupakan hasil refraksi cahaya matahari ketika matahari berada pada posisi 190 di bawah cakrawala.
Dalam matematika dan fisika, kontribusinya juga sangat besar. Dia mengembangkan geometri analitik dengan membuat kaitan antara aljabar dan geometri. Dia mempelajari mekanika gerak dan menjadi orang pertama yang berpendapat bahwa sebuah massa akan terus bergerak kecuali ada gaya luar yang menghentikan atau mengubah arah geraknya. Pendapat yang hampir sama dengan hukum pertama tentang gerak yang dikemukakan Newton.
Sumber : Memahat Kata Memugar Dunia
May 22nd, 2009 at 13:42
Thanks for sharing. A very good article.
Wassalam.